Sudut Pandang Perkawinan

Sudut pandang

Perkawinan oleh sebagian dari mereka dimaknai hanya sebagai hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan. Inilah bentuk privatisasi perkawinan. Dalam cara pandang ini, perkawinan pada dasarnya upaacra pribadi yang tak musti harus diperhatikan dan dihormati secara khusus oleh publik.

Konsekuensi label “istri” atau “suami” lalu menjadi tidak penting. Hubungan perkawinan pun hanya menjadi hubungan mitra (partner) ketimbang hubungan suami-istri.

Bahkan Hillary Clinton, istri Bill Clinton, pernah mengatakan: “Saya belajar sejak lama bahwa hanya dua orang yang penting dalam perkawinan, yaitu kedua orang yang menikah tersebut.”

Di sebagian orang AS lainnya berpandangan perkawinan adalah lembaga sosial dan suatu tindakan publik. Maka ikatan perkawinan memiliki konsekuensi sosial bagi pasangan suami-istri (pasutri) itu sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Dan karenanya label “suami-istri” menjadi penting. (hal 36-37)

Yang ingin ditegaskan dalam buku ini bahwa privatisasi perkawinan adalah kontraproduktif. Dengan kata lain, perkawinan lebih mengarah pada produktivitas hubungan.

Disinilah tampak buku ini lebih menarik, tidak secara teoretis, tetapi juga menyuguhkan data empiris dari produktivitas yang diraih dari perkawinan. Seperti ditunjukkan sub judulnya, buku ini membicarakan manfaat perkawinan mulai dari segi kesehatan, psikologi, seksual dan keuangan. Paparan buku ini dilengkapi dengan berbagai hasil survai empiris.

Ambil contoh tentang seks yang dilakukan The National Sex Survey. Lembaga terkenal di AS ini mewawancarai responden (sampel) secara nasional yang mewakili hampir 3.500 orang dewasa di Amerika pada 1999.

Hasil survai menunjukkan orang yang menikah memiliki hubungan seks yang lebih banyak dan lebih baik ketimbang mereka yang lajang. Mereka berhubungan intim lebih sering dan lebih menikmatinya, baik secara fisik maupun emosional, ketimbang rekannya yang tidak menikah.

Karena itu sebenarnya perwakinan juga bagus untuk libido kedua pasangan. Dalam survai ini juga dilaporkan bahwa sekitar 43% pria menikah bisa berhubungan intim minimal dua atau tiga kali seminggu.

Hanya sekitar 26% pria lajang yang mengatakan hubungan seks mereka sama seringnya. Ini juga terjadi pada wanita. Istri memiliki kehidupan seksual lebih aktif dari semua total perempuan yang tidak menikah, 35% wanita menikah berhubungan seks dua atau tiga kali seminggu bahkan lebih, bila dibandingkan dengan wanita lajang (29%).

Ini berarti ketika seks dikombinasikan dengan kepuasan, maka manfaat seksual dalam perkawinan menjadi lebih nyata. Wanita yang menikah berpeluang merasakan kepuasan hubungan seksual secara emosional hampir dua kali lipat ketimbang yang tidak pernah menikah.

Buku ini benar-benar ingin mengajak membuat perkawinan anda lebih produktif baik dari segi kesehatan, psikologi, seksual maupun keuangan. Dan ini layak bagi Anda yang ingin membuat perkawinan Anda lebih bermakna.

Makna perkawinan bukan sebagai urusan privat kedua pasangan, tetapi juga makna sosial sekaligus. Kedua makna ini tentu harus bersinergi satu sama lain. Sebuah label kotak kondom di AS bertuliskan: “Tidak menikah bisa membahayakan kesehatan Anda. Maukah Anda Sehat? Menikahlah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: