Mizan


Buku ‘Curhat’ Hillary Clinton

Penulis: Rostita

Semua orang bisa menulis. Menulis tema apa saja—termasuk curhat—dan itu dilakukan mantan first lady Amerika Serikat, Hillary Clinton.

2 Juni 2003, buku tulisan senator New York itu diluncurkan. Judulnya Living History, berisi pengalamannya sebagai ibu negara selama 8 tahun di Gedung Putih mendampingi suaminya Bill Clinton yang menjabat presiden Amerika Serikat selama dua periode. Tapi yang jadi topik utama buku terbitan Simon&Schuster itu adalah ‘curhat’ Hillary Clinton seputar affair suaminya dengan Monica Lewinski.

“Sesak rasanya dada ini. Saya menangis dan saya membentak Bill. “Apa sih maksudnya? Ngomong apa kamu? Kenapa kamu begitu?’ Saya sangat kesal. Bill berdiri di depan saya, sambil terus berkata, “Maafkan saya ya. Maafkan saya. Saya hanya ingin melindungimu dan Chelsea.'”

Perempuan lain mungkin enggan menuliskan hal yang paling rahasia seperti itu. Tapi Hillary memilih menuliskannya. Hillary bukan hanya ingin memaparkan fakta, dan rasanya, ia juga tidak mencari sensasi, karena sebagai senator, ibu satu anak itu sanggup menyedot kucuran dana sampai 3 juta dollar AS untuk Partai Demokrat yang diwakilinya.

Entahlah mengapa Hillary menuliskan pengalaman pahitnya. Tapi, Profesor di Fakultas Kedokteran Harvard, Alice Domar (penulis buku Self-nurture: Learning to Care for Yourself as Effectively as You Care for Everyone Else, (Wanita Belajarlah Mencintai Dirimu: Menyayangi dan Memerhatikan Keluarga Tanpa Mengabaikan Sendiri, Qanita, 2002), mengatakan “menuliskan segala sesuatu dapat mengatasi kenangan dan perasaan pahit, sehingga seseorang meneruskan kembali hidup dengan penuh percaya diri”.

Entahlah, apakah Hillary ingin berbagi. Tapi, ada satu kutipan menarik dari The Associated Press yang mempublikasikan Living History.

“Menurut Hillary, pencalonan dirinya untuk duduk di kursi senat mewakili New York menjadi jembatan penyembuh hubungannya dengan Bill Clinton. ‘Bill dan saya jadi lebih banyak berdiskusi tentang kursi senat, dan kami tidak menggugat masa depan hubungan kami. Lama-lama kami jadi lebih santai.'” Ini mengingatkan saya akan sebuah pendapat yang mengatakan, jika kita sedang menghadapi satu masalah, alihkan konsentrasi ke hal lain, maka masalah itu akan terasa lebih ringan.

Hillary hanya menulis. Menulis saja. Menulis isi hatinya, perasaannya, pemikirannya, pengalamannya dan lain-lain. Dan kita—pembacanya (mungkin kita akan membaca bukunya karena menurut http://www.yahoo.com, hak terbitnya sudah dijual kepada 16 negara, mungkin, termasuk Indonesia)—menemukan banyak hal dari tulisannya. Dari publikasi The Associated Press saja, setidaknya ada dua hal, menulis untuk menyembuhkan hati, dan menulis untuk berbagi, memotivasi. Tapi, yang sangat jelas, buku Hillary Clinton ini juga membuktikan hasil riset James W. Pennebaker (penulis “Ketika Diam Bukan Emas”, Kaifa 2002) bahwa mencurahkan isi hati (self-disclosure) dapat berpengaruh positif bagi perasaan, pikiran, dan kesehatan tubuh—yang caranya sangat mudah dilakukan: membuka-diri kepada orang yang dipercaya, atau yang lebih baik lagi: menuliskan semuanya secara bebas di catatan pribadi.

Ngomong-ngomong, Simon&Schuster sangat yakin, Living History setebal 562 halaman bakal laris. Edisi pertamanya yang dicetak 1 juta eksemplar memang laris di pasaran. Hillary Clinton sendiri dibayar 2,85 juta dollar AS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: