aagym

Indahnya Kesederhanaan (1)

Sumber: Majalah KalamDT – Daarut Tauhiid Jakarta

Oleh : Aa Gym

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syururi anfusina wamin syaia’ti a’malina man yahdillahufala mudhillallah waman yudhlilhufalahadiyalah. Allohumma sholli wassaliim wabaarik ala syaidina muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in. Amaba’du.

Semoga Allah SWT yang menggenggam langit, bumi berikut segala isinya mengaruniakan kepada kita kemampuan mengolahnya dengan benar, sehingga bisa membuat diri kita sejahtera dan mensejahterakan orang lain, dan yang paling penting semoga kita diberi kemampuan mewariskan yang terbaik yang bermanfaat bagi generasi sesudah kita. Amin ya Allah ya Rabbal ‘alamiin.

Saudaraku beberapa waktu yang lalu kita mendengar tentang krisis BBM, padahal sebelumnya kita dikenal sebagai penghasil minyak lambat laun kita semakin mengerti bahwa kita adalah bagian dari importir minyak dan subsidi yang dikeluarkan begitu besar, saya dengar untuk satu liter minyak tanah itu dipasaran luar katanya sampai 72 dollar per barel, artinya 4000 rupiah/liter. Setiap kita beli minyak tanah maka disubsidi jadi kalau sehari kita menghabiskan 10 liter minyak tanah maka subsidi untuk kita adalah 40000 rupiah. Begitu juga solar dan bensin hitungannya sampai triliun-triliun. Karena kita bukan pejabat, hanya rakyat saja maka solusinya bukan solusi kaya pejabat, melainkan solusi rakyat saja.

Alangkah ruginya andaikata krisis BBM yang meguras begitu banyak uang kita, uang bangsa ini, tidak sampai menjadi pelajaran yang dapat merubah diri kita, ingat kesepakatan kita, apapun yang terjadi ujungnya hanya satu yaitu merubah diri kita menjadi lebih baik. Kalau kita ingin merubah bangsa ini menjadi bagus, awalilah dengan merubah diri kita sendiri. Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara begitu besar pengorbanan harta, jiwa, dan raga.

Alangkah ruginya apabila badai tersebut tidak merubah diri kita, artinya krisis BBM ini harusnya menjadi sebuah momentum agar kita bisa berubah. Tidak akan rugi Man kana yaumuhu khoiron min amsihi fahuwa robihuun… . artinya: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung”. Andaikata krisis bangsa dapat merubah diri kita, maka berapapun biaya yang dikeluarkan tidaklah rugi, tapi kalau subsidi kita lebih besar dan tidak merubah bangsa kita maka kita bangsa yang rugi, apalagi ketika subsidi yang besar tapi malah membuat bangsa kita lebih jelek berarti kita bangsa celaka, itu tidak boleh terjadi.

Adik saya kemarin menasehati kalau ingin bagus jangan BOBO, apa jangan BOBO? jangan Bocor dan jangan Boros. Anggap saja sekarang negara Indonesia itu keluarga kita. Jadi kalau kita bisa menganalisa mengapa kita ini sengsara ?

Penyebab hidup boros diantaranya :

I. Karena kejahilan dan kebodohan kita.

Karena kita kurang ilmu, kurang pengetahuan bisa menyebabkan boros. Nah saudaraku sekalian, pernah saya berbincang dengan tukang becak yang sedang sedih. “Pusing Mang, tidak cukup untuk biaya anak-anak, susah sekarang mencari nafkah, buat rokok aja tidak cukup”. Lalu saya tanya “memangnya Mang berapa penghasilan?”, “kadang Rp.12.000,- kalau merokok daripada pusing, berapa sebungkus?”, “justru itu sekarang Rp. 5.000,-“, “sehari berapa bungkus?”, “orang lain mah 3 bungkus, Mang mah cuma 2 bungkus”. Berarti Rp.5.000 X 2 = Rp.10.000,-X sebulan,=Rp. 300.000,- , jika dikali setahun menjadi 3.600.000,-, itu belum termasuk korek apinya, belum baju bolong, karena tidak pandai berhitung dengan baik. Anak bayaran Rp.10.000,- tidak dapat dibayarkan sehingga dikeluarkan dari madrasah, tapi kalau untuk merokok Rp.300.000,-sebulan bisa. Banyak diantara kita yang tidak mengerti resiko apa yang kita lakukan karena kejahilan kita. Makin kita kurang ilmu, makin kurang pengetahuan, makin berpeluang hidup boros, makanya negara-negara kurang ilmu sudah miskin boros lagi.

II. Penyakit gengsi

Berapa banyak diantara kita memiliki barang bukan karena perlu, tapi karena gengsi. Handphone, motor, mobil… pernah ada disebuah komplek seorang isteri uring-uringan karena tetangga kanan-kirinya punya mobil, “saya tidak terima pak mereka itu karyawan lebih rendah dari bapak, tapi mereka punya mobil, saya menderita, setiap tengok kiri-kanan saya nelangsa karena mobil tetangga”, akhirnya beli mobil yang catnya bagus, tapi karena tidak tahu mini bus ini punya kekhususan yaitu tiap dipakai rusak karena ternyata mantan angkot. Tidak dipakai gengsi, dipakai gaji ludes untuk memperbaiki. Berapa banyak kita memiliki barang hanya karena ingin dihargai orang lain. Budaya gengsi adalah budaya boros, budaya ingin dipuji, budaya ingin dihormati, budaya ingin selalu tampil keren adalah budaya boros dan budaya nyiksa diri. Ada yang tidak mau naik ojek, masa direktur naik ojek, memangnya kalau direktur naik ojek turun jabatan. Bahkan tidak sedikit yang naik jabatan juga naik kemuliaan karena tidak gengsi.

Bersambung…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: