Salah Duga

Malam semakin larut. Di luar rumah, cuaca sangat gelap. Hujan turun rintik-rintik. Sekali-sekali terdengar lolongan anjing yang menyebabkan Hamidah merinding. Apa lagi di rumah kontrakan itu, ia hanya sendirian. Namun diberanikannya hatinya dengan beristighfar kepada Allah berkali-kali. “Aku tak boleh takut kecuali hanya kepada Allah”, batinnya. “Kalau nanti aku mati, bukankah aku akan sendirian tanpa siapa pun yang mendampingiku?”

Beberapa saat kemudian, hujan yang semula rintik-rintik menjadi deras. Hati Hamidah mulai cemas, karena Sabar, suaminya belum juga pulang. Padahal azan isya sudah lama berkumandang. Biasanya menjelang azan isya berkumandang, lelaki penyabar yang bernama Sabar itu telah kembali ke rumah dari tempat ia bekerja. Dan biasanya, Sabar langsung ke mushalla di dekat rumahnya untuk menunaikan shalat isya berjamaah. Sebab sejak remaja, semua gurunya berpesan kepadanya agar shalat fardhu ditunaikan secara berjamaah di masjid. Karena di lingkungannya hanya ada mushalla, maka mushalla itulah ia shalat berjamaah. Tetapi pada malam ini, ternyata tak demikian.

Hamidah akan berwudu ketika terdengarnya suara sepeda motor memasuki pekarangan rumah yang merekatempati. layakin itu suaminya. Ditundanya niatnya berwudu, disongsongnya pengemudi sepeda motoi yang tak lain memang Sabar, suaminya.

“Mengapaterlambat, Mas?” tanyanya. “Ada masalah?”

Sabar tak langsung menjawab, tapi hanya menuntun sepeda motornya ke dalam rumah, lalu dudukdi kursi tamu. Dan ia langsung menghirup teh hangat yang diulurkan Hamidah. “Kelihatannya kita harus tinggal di rumah Mak juga,” kata Sabar.

“Harus tinggal di rumah Mak juga?” ulang Hamidah.

“Ya. Bagaimana pun kelahiran anak pertama kita sangat membutuhkan bantuan Mak. Dan bantuan Mak akan mudah kita dapatkan, kalau kita tinggal di rumahnya, paling tidak beberapa bulan setelah kau melahirkan.”

“Tapi, Mas,…”
“Tapi apa? Masih tentang anjing peliharaan itu?”

“Ya. Aku tetap masih seperti dulu, paling tak suka terhadap anjing dan merasa berdosa tinggal di dalam rumah yang ada anjingnya.”

“Lalu maumu bagaimana? Anjing itu harus disingkirkan terlebih dulu?”

“Kalau kita benar-benar ingin mengamalkan sunnah Nabi, kita harus tidak memelihara anjing. Dan kita harus tinggal di rumah yang di dalamnya tak ada anjing.”

“Tapi, bukankah anjing itu makhluk Allah juga?”
“Babi juga makhluk Allah, Mas, tetapi mengapa diharamkan Allah memakannya?”
Sabar terdiam. Kemudian Hamidah melanjutkan, “Memang pada hakikatnya yang menciptakan anjing adalah Allah. Dan umat Islam tak diperintahkan membenci anjing. Namun bukan berarti umat Islam diperintahkan memelihara anjing dan berakrab-akrab dengannya. Dan orang yang bertaqwa tidak akan memelihara anjing tanpa kepentingan.”
“Tapi kita kan tidak makan daging anjing?”

“Kita memang tidak makan daging anjing, tapi memelihara anjing dalam Islam merupakan perbuatan tercela. Setiap hari, pahala ibadah kita dikurangi Allah sebanyak dua gunung besar.

Sabar terdiam sejenak, kemudian berkata, “Tapi aku pernah mendengar khutbah Jumat bahwa memelihara anjing sebenarnya dibolehkan kalau memang ada kepentingannya, seperti untuk menjaga sawah, ladang, ternak, termasuk untuk melacak kejahatan bagi petugas polisi rahasia…”

“Kalau memang ada manfaatnya, memang dibolehkan. Tapi bagi kita, anjing kan tak ada manfaatnya?”

“Sebenarnya ada. Paling tidak, si belang sudah pernah tiga kali menggagalkan rencana pencuri di rumah Mak.-Dan aku yakin, Allah tidak terlalu kejam untuk menghukum kita di akhirat nanti hanya karena kitatinggal di rumah yang ada anjignya.

Kali ini, giliran Hamidah terdiam. N.amun kemudian ia menjawab, “Ya. Allah memang tidak akan menghukum kita hanya karena anjing, tapi kita kan Muslim, Mas? Muslim diwajibkan menjauhkan diri dari najis, terutama najis berat, sedangkan liur anjing dikatagorikan najis berat. Bahkan Nabi mengatakan bahwa kalau anjing menjilat air yang berada dalam alat rumah tangga’seperti piring, gelas, mangkok, hend’stklah dibasuh sebanyak tujuh kali dan sekali di antaranya dengan Lumpur atau tanah.-“

Sabar terdiam

Besoknya dicobanya membujuk ibunya agar membuang anjing peliharaannya yang telah lima tahun menunggu rumahnya itu, namun sang ibu tak mau. Akhirnya Hamidah merigalah. Ia harus mau tinggal di rumah ibu Sabar, mertuanya ketika usia kandungannya sudah semakin tua.

Ketika saat melahirkan tiba, Sabar sengaja mengambil cuti. laingin. mendampingi istrinya saat melahirkan. Sebelumnya ia telah berdoa kepada Allah agar proses persalinan lancar, tak ada kesulitan dan istrinya selamat serta bayinya lelaki dan juga sehat. Doa Sabar ternyata makbul. Istrinya melahirkan bayi lelaki. Keduanya selamat. Sabar langsung melakukan sujud syukur kepada Allah.

Selesai sujud syukur, diangkatnya bayi pertamanya itu, lalu diazankannya. Sebelumnya, teman-temannyayang menamakan kelompok mereka sebagai salafi mengatakan bahwa mengazankan bayi hukumnya bid’ah, yang berari sesat dan pelakunya dimasukkan ke dalam neraka. Tetapi Sabar tetap mengazankan bayi lelakinya itu.

Pada suatu pagi, mertua Hamidah pergi ke pasar. Hanya Hamidah sendirian di rumah. Sabar sudah berangkat ke tempatnya bekerja. Pakaian bayinya yang kotor terkena pipis sudah banyak sekali menumpuk. Di dekat rumah ada sungai yang airnya mengalir deras dan jernih. Dengan membawa sebuah tongkat besi, Hamidah pergi ke sungai itu untuk mencuci popok dan selimut bayinya. Sedang mencuci, Hamidah mendapat firasat kurang baik. Tiba-tiba iateringat bahwa tindakannya meninggalkan bayinya sendirian sangat ceroboh. Sebab di rumah tak seorang pun yang menjaga bayinya kecuali anjing peliharaan mertuanya. Ia sangat tak suka anjing. “Bagaimana kalau-kalau anjing itu memakan bayiku?” batinnya.

Tak berapa lama kemudian, dilihatnya si Belang, anjing peliharan mertuanya berlari menghampirinya. laterkesiap. Dan matanya melotot, ketika melihat moncong anjing itu berlumur darah.

Karena pikirannya sedang buruk terhadap anjing itu, iatak sempat berpikir sehat. Yang terlintas dalam pikirannya pada waktu itu ialah bahwa.si Belang telah memakan bayinya. Ia langsung marah dan benci kepada si Belang. Walaupun si Belang peliharaan mertuanya, tetapi anak yang sangat disayanginya telah dimakan oleh binatang itu. Maka tanpa berpikir panjang, Hamidah mengambil tongkat besi yang dibawanya sebelumnya, lalu memukul kepala si Belang sekuat tenaganya.

Ketika di Belang meggelepar-gelepar, Hamidah menambah lagi beberapa pukulan yang cukup keras pada kepala binatang itu, sehingga akhirnya binatang itu mati. Setelah si Belang mati, Hamidah berlari ingin melihat janazah anaknya. Ia yakin anaknya tentu telah menjadi janazah dengan tubuh berlumur darah.

Tetapi ia merasa sangat heran. Anaknya tak berlumur darah. Dan masih hidup. Ia tertidur nyenyak. Hanya di dekat tempattidurnya, Hamidah melihat bangkai seekor ular besar. Hamidah berpikir sejenak. Moncong si Belang berlumur darah, anaknya masih hidup dalam keadan utuh, selamat tanpa lumuran darah, lalu di dekat tempat tidurnya ada bangkai ular yang berlumur darah.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Hamidah tahu bahwa darah di moncong si Belang bukan darah anaknya tapi darah ular yang telah mati itu. Jadi, yang digigit anjing itu bukan anaknya tapi ular besar itu. Artinya, yang ingin memangsa anaknya sebenarnya bukan si Belang, tapi ular besar itu. Si Belang bahkan menjadi pahlawan penyelamat anaknya.

Setelah menyelamatkan anak Hamidah, si Belang pergi ke pinggir sungai memberitahukan Hamidah bahwa anaknya hampir dimangsa ular besar. Tetapi si Belang tak dapat berbicara dalam bahasa manusia. Akibatnya Hamidah salah duga. Dikiranya si Belang telah memakan anaknya.

Lama Hamidah termenung memikirkan peristiwayang baru sajaterjadi. Kini ia merasa menyesal. Sebab makhluk yang telah menyelamatkan anaknya justru dibunuhnya hanya karena salah duga. Akhirnya ia bertobat memohon ampun kepada Allah lalu menguburkan bangkai si Belang. Dan ia berniat akan menjawab secara jujur kepada mertuanya kalau mertuanya itu menanyakan penyebab kematian si Belang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: