Tidak Serakah

Rafi membeli sebidang tanah milik Qani. Uang pembelinya uang halal. Sebab Rafi senantiasa hidup dalam tuntunan Allah. Maka dalam mencari rezeki pun, ia tak pernah melakukan penipuan atau dosa dalam bentuk apa pun. Ia selalu mencari rezeki secara halal. Sesuai dengan tuntunan agama yang diyakininya kebenarannya.

Setelah tanah milik Qani dibelinya, pada suatu hari, Rafi menggali tanah untuk membuat sumur. Di dalam tanah galian, ia menemukan sebuah peti besi. Lama juga ia berpikir tentang pesi besi itu.

“Peti besi apa ini? Milik stapa? Mengapa sampai berada di dalam tanah? Adakah isinya atau tidak?”. Begitu hatinya tertanya-tanya.

Dicobanya membuka tutup peti besi itu. Begitu melihat isinya, matanya terbelalak, ia terkejut. Ia kaget bukan karena isi peti besi itu ular ganas atau kala jengking berbisa, bukan pula tengkorak manusia atau benda lain yang aneh, tetapi emas. Rafi semakin heran memikirkan kenyataan itu.

“Mimpikah ini atau memang kenyataan?” tanyanya dalam hati. Dicubitnya tangannya. Sakit terasa. Berarti bukan mimpi. Kalau dalam mimpi, tidak sakit. Memang bukan mimpi. Nyata, tetapi aneh. Seumur hidupnya baru kali ini Rafi mengalami dan menemukan kenyataan ini.

Namun Rafi bukan manusia serakah. Kalau orang lain yang menemukan benda berharga itu, ia akan merasa sangat gembira dan tidak memberitahukan penemuan tak terduga itu kepada siapa pjjn, terutama kepada Qani yang telah menjual tanah itu.

Tetapi Rafi tidak. la sama jsekali tak berniat akan menguasai temuan tak terduga itu. Katanya kepada dirinya sendiri: “Ketika melakukan transaksi jual beli lahan ini, aku sama sekali tak menyebutkan bahwa semua benda berharga di dalam tanah ini akan menjadi milikku. Jadi, benda berharga ini tetap hak Qani. Yang menjadi milikku hanya tanah. Temuan ini tidak. Kalau kuambil juga, berarti aku mengambil sesuatu yang bukan hakku. Berarti aku berdosa. Aku tak mau berdosa. Manusia bias ojkelabui, tetapi Tuhan tidak. Ia tahu apa yang aku lakukan dan apa yang tidak aku lakukan…”

Ketika Rafi memberitahukan temuannya itu kepada istrinya, wanita itu melompat-lompat keriangan. Tetapi ketika Rafi memberitahukan bahwa ia akan mengembalikan benda berharga itu kepada Qani, istrinya tak sependapat. Katanya, “Tanah itu sudah kita beli. Berarti apa saja yang terdapat di dalamnya dengan sendirinya menjadi hak dan milik kita dan bukan lagi hal dan milik Qani. Mengapa harus dikembalikan kepadanya”.

Rafi tetap pada pendiriannya. la tetap harus mengembalikan emas murni itu kepada Qani. Benda berharga itu diangkatnya, lalu ia melangkah akan membawanya ke Qani. Tetapi istrinya menghalanginya. Katanya, “Sudah lama aku mendambakan kekayaan, namun tak pernah menjadi kenyataan. Kini keinginanku itu bisa terwujud. Dengan menjual emas ini, kita akan kaya raya. Kita tak akan susah lagi. Kau tak perlu lagi bekerja keras membanting tulang untuk mendapatkan nafkah kita. Dengan uang hasil penjualan emas itu, kita bisa makan enak. Kita juga bisa membeli rumah yang bagus, kuda yang bagus, kebun yang bagus, pakaian yang bagus dan apa saja yang bagus-bagus. Lalu mengapa kau begitu dungu dan pandir ingin menyerahkan benda-benda berharga itu kepada Qani?”

Apa pun kata istrinya, Rafi tetap pada pendiriannya. Ia pergi juga ke rumah Qani, lalu menyerahkan temuan berharga itu kepada Qani atas dasar bahwa yang berhak atas emas itu adalah Qani dan bukan dirinya.

Qani pun terkejut. la tak pernah membayangkan bahwa di dalam tanah yang telah dijualnya kepada Rafi, tersimpan benda berharga yang nilainya sangat tinggi. Tetapi ia lebih terkejut lagi bahwa benda berharga itu bukan dikuasai Rafi, tetapi malah diserahkan kepadanya.

Rafi mengatakan kepada Qani bahwa transaksi yang dilakukannya ialah membeli tanah dan bukan membeli emas yang terdapat di dalam tanah itu. Dengan demikian, yang berhak atas temuan berharga itu adalah Qani.

Kalau saja Qani serakah dan egois serta licik, emas itu diterimanya, lalu cepat-cepat dijualnya, agar dirinya aman kalau-kalau ada tuntutan di kemudian dari Rafi, atau pihak lain. Tetapi Qani ternyata tidak demikian. Kepada Rafi, Qani mengatakan bahwa dengan telah dijualnya tanah itu kepada Rafi, maka segala yang terdapat di dalam tanah itu, termasuk emas itu dengan sendirinya telah menjadi hak milik Rafi, dan bukan menjadi hak milik Qani lagi.

Rafi yang dikenal zuhud dan wara’, tetap tak berani memiliki emas itu dan tetap meminta agar Qani menerimanya. Sebaliknya Qani tetap tak mau menerimanya. Sebab ia juga takut dosa. la yakin bahwa emas temuan itu memang miliknya, tetapi sebelum tanah itu dijualnya kepada Rafi.

Akhirnya mereka meminta solusi kepada Muqaffa, seorang hakim yang arif dan bijaksana. Sang hakim merasa kagum terhadap kezuhudan Rafi dan Qani, sehingga merasa kedua lelaki zuhud itu perlu dipersaudarakan. Akhirnya sang hakim memberikan solusi berupa usulan. Anak Rafi yang lelaki dinikahkan dengan anak Qani yang perempuan, lalu temuan berharga itu diserahkan kepada anak dan menantu mereka itu. Usulan itu disetujui Rafi dan Qani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: