Isu Global Warming, Dana Konpensasi dan Alih Teknologi Untuk Pembelajaran Geografi

Jika Anda bertanya kepada siswa, mata pelajaran apakah yang paling sulit dipelajari di sekolah. Jawabannya pasti bukan mata pelajaran geografi. Geografi adalah mata pelajaran yang dianggap mudah dipelajari siswa, bahkan mungkin dianggap tidak perlu. Ketika geografi akan dihapus dari kurikulum 2004, hanya guru geografi yang berteriak menolak. Tetapi jika mata pelajaran lain (misalnya matematika) akan dihapus, penulis yakin akan dibela oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan tentunya dengan berbagai logika.

Sistem pendidikan di Indonesia sejak kurikulum 76 sampai KTSP memang cenderung menganak-emaskan mata pelajaran tertentu. Walaupun tujuannya mungkin baik, tetapi dengan hanya memilih mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris) saja yang di-Ujian Nasional-kan, dampaknya sangat buruk. Geografi dan juga mata pelajaran lainnya tidak pernah dijadikan mata pelajaran yang penting. Para orang tua bersedia menyediakan guru les-private hanya untuk mata pelajaran IPA, matematika, dan bahasa Inggris. Sangat aneh jika ada orang tua yang mengundang guru geografi untuk memberi les bagi anaknya.

Awalnya kita menduga bahwa dengan meng-unggul-kan ketiga mata pelajaran tersebut, anak bangsa akan semakin cerdas IPA dan pandai berbahasa Inggris. Ternyata hal itu tidak terjadi. Bangsa ini tetap menjadi negara yang tidak cerdas. Alih-alih ingin memacu bangsa menjadi bangsa yang pintar, ternyata bangsa ini menjadi bangsa yang bodoh di bidang lainnya pula. Dahulu, pada tahun 1980-an siswa sangat familier dengan para sastrawan Indonesia, karya besar dari roman, puisi, soneta, dan novel-novelnya. Siswa juga mengenal para pahlawan nasional dengan baik, mengenal suku bangsa, dan kebudayaan nasional. Tetapi dengan hanya memilih tiga mata pelajaran yang diujian-nasionalkan, banyak mata pelajaran yang tergusur dari ”perhatian” para siswa. Kehidupan sastra, seni dan ilmu pengetahuan sosial tidak lagi menjadi kebanggaan siswa, para orang tua dan masyarakat.

Ketika bangsa ini terancam desintegrasi bangsa, kerusakan lingkungan di mana-mana, dan apresiasi sangat rendah terhadap seni dan sejarah bangsa barulah sebagian masyarakat menyadari bahwa ada yang keliru dalam pengelolaan pendidikan selama ini. Memang tidak semua orang menyadari pentingnya mata pelajaran yang termasuk humaniora, tetapi sedikit demi sedikit mulai ada perhatian. Ke depan, geografi juga akan di Ujian Nasional-kan. Ini harapan baru, tetapi bukan satu-satunya solusi yang strategis.

Sampai saat ini geografi memang masih belum populer. Berbagai peristiwa yang terkait dengan geografi seperti banjir, perubahan iklim, isu global warming (pemanasan global), krisis pangan, migrasi tenaga kerja antar negara, dan kemiskinan tidak menjadi isu bagi revitalisasi mata pelajaran geografi. Terkadang penulis ”berharap” ada yang menyalahkan mata pelajaran geografi jika ada peristiwa bencana, tetapi harapan itu tidak pernah muncul. Di sisi yang lain, penulis juga berbisik, untung juga masyarakat tidak berfikir demikian sehingga guru geografi masih dapat tidur siang walaupun isu-isu lingkungan hidup mencuat di berbagai media.

Adanya isu global warming di akhir tahun 2007, juga tidak terdengar adanya anjuran untuk merevitalisasi sejumlah mata pelajaran di sekolah. Berbeda ketika tingkat kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas sangat rendah, sebagian masyarakat dengan gigih menganjurkan agar memasukkan mata pelajaran disiplin berlalu lintas di sekolah. Tetapi ketika kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana, geografi tidak juga diperhatikan oleh masyarakat. Padahal jika dikaji, kedekatan geografi dengan peristiwa lingkungan hidup sangat erat.

Bagi penulis, masalah ini sangat dilematis. Satu sisi ingin membongkar kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran geografi, tetapi pada sisi yang lain masyarakat dan pemerintah kurang peduli terhadap geografi. Bisa saja penulis menganjurkan agar teman-teman guru geografi meningkatkan tingkat profesionalismenya dalam pembelajaran geografi, tetapi selama kultur di sekolah masih menganggap geografi sebagai mata pelajaran yang tidak penting (sepenting matematika dan bahasa Inggris), maka tetap saja akan merepotkan diri sendiri. Mulut dapat berbusa-busa untuk menerangkan bahwa mata pelajaran geografi adalah mata pelajaran yang penting, bahkan berkorban ”habis-habisan” baik waktu dan tenaga. Tetapi kalau tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat sangat rendah maka tetap saja geografi akan dianggap sebelah mata.

Penulis tidak tahu, apakah dengan adanya isu global warming geografi akan menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah?. Di dalam Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Perubahan Iklim telah disepakatinya bahwa akan disediakan dana konpensasi dan alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang yang memiliki hutan. Bentuknya belum dirinci, tetapi semestinya mata pelajara geografi mendapat alokasi dari dana konpensasi dan alih teknologinya. Ada sejumlah alasan mengapa mata pelajaran geografi perlu mendapat alokasi dana konpensasi itu yaitu:

1. Sarana pembelajaran yang terkait dengan teknologi lingkungan hidup sangat minim di sekolah-sekolah. Bentuk sarana pembelajaran tentunya harus dapat dimanfaatkan oleh sejumlah mata pelajaran secara terpadu. Jika geografi diajarkan dengan sarana pembelajaran yang memadai maka kajian tentang lingkungan hidup akan lebih difahami siswa. Adanya kerusakan lingkungan selama ini, sedikitnya karena pembelajaran geografi kurang efektif diajarkan disekolah sebagai akibat dari minimnya sarana pembelajaran.

2. Guru geografi masih memiliki keterbatasan dalam menyampaikan materi geografi yang modern. Guru geografi juga masih kurang memahami dengan baik tentang proses global warming. Jika guru geografi dilatih dengan waktu khusus maka ilmunya akan sangat bermanfaat, baik bagi siswa maupun masyarakat di sekitarnya. Dengan alasan ini, sangat strategis kiranya jika dana konpensasi dan alih teknologi yang dimaksud disalurkan untuk pembinaan guru geografi di sekolah-sekolah.

Jika kedua alokasi tersebut dicairkan, guru dan mata pelajaran geografi akan menjadi pusat pembangkit kesadaran lingkungan hidup di masyarakat. Barangkali jika masyarakat menyadari tentang eratnya geografi dengan isu lingkungan hidup, setiap orang akan melirik geografi sebagai sebuah harapan penting dalam menyelamatkan dunia dari kerusakan dan pemanasan global.

Bagaimana jika geografi masih tetap tidak diperhitungkan dalam program penyelamatan dunia dari pemanasan global. Dugaan sementara, akan terjadi pemborosan dana konpensasi tersebut karena disalurkan bukan kepada pihak-pihak yang strategis. Untuk program penyelamatan dunia dari pemanasan global, kiranya tidak berlebihan jika mata pelajaran geografi dapat disediakan sarana pembelajaran yang lengkap dan pembinaan guru geografi yang lebih aplikatif agar program penurunan emisi karbondioksida dan reboisasi hutan berhasil dengan signifikan. (yani ’07)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: